Pages

Sabtu, 24 Mei 2014

karena dia mencintai pagi

Uuuum, yeah. Harum sekaliii. Kalau ini film kartun, pasti aku sudah melayang sambil ngendus bau ini. Laparrr!!!
“Morning, sweetheart!” kudengar suaranya.
“Harum banget deh. Masak apa nih? Insting heroku kayanya tau deh. Mmm, nasi goreng. I know that! Laperrr…”
“Oke, sweetheart. Siap bertempur? Let’s go!” ini dia super hero yang selalu bikin pagi itu terasa so dramatic.
“Siap! Piring, sendok, garpu dan gelas siap di posnya, Captain!” dia tertawa. Aku ikut tertawa.
Indahnya pagi ini. Ini dia super heroku. Pahlawan dari semua pahlawan. Hanya dia yang bisa membuat sarapan menjadi tempat latihan tempur. Hanya dia yang mampu membuatku tertawa seperti hari ini setelah sekian lama. Hanya dia yang mampu menjadi seorang ibu merangkap ayah yang sempurna. Hanya dia yang mengerti apa yang buah hatinya rasakan.
Andai waktu bisa berhenti saat ini juga, aku akan jadi orang paling bahagia di dunia. Tentu saja itu andai. Tapi hanya dengan merasakan pagi ini di setiap pagi berikutnya, aku akan jadi orang yang paling bersyukur di dunia ini. Walau aku tahu, esok pagi, pagi yang terjadi hari ini akan sangat ku rindukan.
“Kamu jaga diri ya, sweetheart. Mama akan rajin ngehubungin kamu. Kalau ada apa-apa langsung hubungin mama ya. Mama udah telfon Tante Hena. Dia yang bakal jemput kamu di airport. Kalau kamu udah sampai langsung kabarin mama. Pokoknya kamu harus jaga diri. Jangan sampai…”
“Iya, ma.. Aku gak bakal telat makan atau pun kecapekan. Mama udah ngulang kalimat itu puluhan kali sejak seminggu yang lalu. Aku inget kok ma,” sambil ku rapikan celanaku. Kulipat ujungnya dan ku rapikan tali sepatu putih ini. Ku tegakkan badanku. Dan saat itu aku melihatnya. Ada butiran air di pipinya. Dia memelukku.
“Mama khawatir sama kamu, Mika. Kamu satu-satunya yang mama punya. Dan sekarang mama harus pisah sama kamu. Tempat kamu itu jauh. Bukan kayak kita pergi ke kampung. Mama sayang sama kamu…” semakin basah kemeja yang ku kenakan. Perasaan bersalah menyelinap. Menimbulkan rasa sesak di dada.
“Iya ma. Aku juga sayang sama mama. Bukannya kita udah bahas ini? Pelatihan ini cuma 3 bulan. Di sana pun aku bakal tinggal sama Tante Hena, kan? Mama gak perlu khawatir. Tante Hena pasti bakal ngejagain aku.” Jawabku melembut. Takut kalau-kalau salah kata akan membuat dia semakin menangis.
…and welcome to Bandung. Suara pramugari itu membuat aku deg-degan. Rasanya gak sabar untuk memulai pelatihannya. Atau lebih tepat dibilang magang. Aku akan jadi tour guide selama 3 bulan di kota kembang ini. Sebagai syarat untuk lulus dari SMK ku. Hal ini yang sudah sebulan ini jadi bahan perdebatan aku dan dia. Sampai akhirnya dia nyerah dan merelakan aku pergi.
Hari-hari pertama di kota ini terasa asing. Aku masih canggung dalam menuntun para turis. Dan aku masih belum terbiasa dengan suasana sepi di rumah Tante Hena. Maklum, Tante Hena adalah businesswoman yang lagi bersinar karirnya. Jadi jarang pulang sebelum jam 10 malam. Dan seringnya aku sudah tidur saat tante pulang. Bertatap muka di pagi hari saja sering absen.
Sudah 25 pagi ku lewati di sini. Dan tidak pernah sekali pagi pun dia absen untuk menelfonku. Tak heran jika dia selalu menelfon di pagi hari. Dia mencinati pagi. Entah untuk apa.
Di satu sisi, aku terharu, tapi di sisi lain aku juga merasa risih. Bukannya aku gak senang, tapi terkadang aku buru-buru tapi tidak enak untuk memutuskan telfon. Alhasil, aku telat dan kehilangan turis. Seperti pagi ini.
“Kamu sehat kan? Udah sarapan? Sarapannya apa? Mama bikin nasi goreng nih, enak. Coba kamu di sini, pasti…”
“Ma, aku udah telat. Udah hampir sebulan dan mama gak pernah absen buat nelfon aku. Stop dong ma. Lima kali aku kehilangan turis karena..” kalimat itu menggantung. Tapi dia mengerti.
“Mama cuma kangen sama kamu. Maafin mama ya. Ya udah, berangkat gih sana. Hati-hati ya, nak.” Sambungan telfon diputus.
“Ma…”
Esokan paginya tidak pernah sama lagi. Aku lega dia mengerti. Sekarang dia hanya menelfon tiga kali seminggu. Tapi ada yang berbeda dari suara itu. Suara yang selalu ngingatin makan itu perlahan berubah serak. Bahkan pernah satu waktu ia menelfon dan aku mendengar suaranya sangat parau. Aku diam. Aku takut untuk bertanya.
Perlahan tapi pasti. Frekuensi dia menelfon berkurang. Memasuki minggu kedua di bulan ketiga aku di sini, dia hanya menelfon satu kali. Sedangkan minggu ini dia sama sekali tidak menelfon. Meskipun tidak menelfon, dia tetap mengirim pesan singkat di pagi hari untuk mengingatkanku tentang makan atau apalah. Atau bahkan hanya untuk sekedar say hello.
“Ma, pesawatku udah mau take off. Jam 11 udah harus sampai di airport ya ma.” Aku menekan pilihan send di hpku. Aku kangen sama dia. Dia yang selalu menelfon di pagi hari. Dia yang selalu memberi perhatian kepadaku. Dia yang selalu kuat di mataku meski cobaan yang ia hadapi begitu berat. Mulai dari perginya papa sampai harus melepasku untuk magang.
Dia wanita hebat. Dia wanita kuat. Dia pahlawan. Dia Wonder Women-ku. Dia aktris terhebat yang bisa memainkan peran ayah dan ibu seakaligus. Dia yang mampu membesarkanku seorang diri. Dia single parent-ku. Dia yang akan selau kusayang dan kurindu. Dia yang akan selalu kusebut namanya di setiap doaku. Dia yang selalu ada saat aku butuhkan. Dia yang selalu ada saat suka maupun duka. Dia seorang yang kelak akan ku buat bangga. Dia wanita cantik, kuat, hebat dan tegar. Dia punyaku. Dia pahlawan hidupku. Dia yang membuatku mampu menjalani hari. Dia malaikat. Dia…
Dia, mamaku. Dan dia juga wanita yang terlihat lebih tua dari umurnya. Wanita yang selalu tegar di mataku, yang selalu jadi Wonder Women-ku, yang selalu menjadi penolong dalam hidupku, yang mengajarkanku sebuah ketabahan. Wanita itu sama dengan wanita yang terlelap di depanku. Dia tidur. Tidur di sisi-Nya.
Sekarang aku tau. Aku tau alasan di balik semua perhatiannya di pagi hari. karena menurutnya, pagi itu adalah waktu paling sempurna. karena jika kita dapat melihat pagi artinya kita berhasil bangun dari kematian sementara. karena itu dia mencintai pagi. karena itu dia membuat pagi itu selalu berharga. karena hanya di pagi hari juga dia dapat melihat putri satu-satunya, tertawa bersamanya, berbincang bersamanya, membuatkan sarapan untuknya, dan memandangi aku sepuas hatinya.
karena pada siang hari saat aku di sekolah, dia akan terlihat tidak berdaya. Tidak terlihat seperti wanita yang ku kenal di pagi hari. Wajahnya terlihat sangat sedih. Dan taukah alasan di balik semua itu? karena dia punya segudang masalah yang tak pernah ia keluhkan. Sudah ku katakan, dia wanita kuat. Bahkan aku pun baru tau setelah dia pergi.
Awalnya ku kira dia pergi karena sakit. Tapi saat kurapikan kamarnya, aku menemukan map berlogokan rumah sakit. Sejak saat itu aku tau. Dia sudah membuat perjanjian dengan rumah sakit. Atau tepatnya dia menjadi sukarelawan untuk mendonorkan jantungnya. Dan jantungnya dijadikan donor untuk seorang gadis kecil, Keyla. Aku tidak mengenalnya. Mendengarnya pun baru pertama kali. Dan di dalam map itu, aku menemukan alasan mengapa ia melakukannya. Dia terlilit hutang.
Aku menangis. Kata demi kata ku baca tanpa suara. Semakin menyesakkan dada. Dan taukah mengapa dia terlilit hutang? Itu karena aku. Sejak papa pergi, perekonomian keluarga kami hancur. Dia meminjam uang di sana-sini untuk melanjutkan sekolahku dan kelangsungan hidup kami sampai dia tidak mampu membayarnya. Sempat dia putus asa. Putus asa. Kata-kata yang paling pantang di dengarnya. Tapi begitulah dia.
Sampai dia menemukan iklan di koran tentang pendonoran jantung itu. Dia membuat perjanjian dengan ayah gadis kecil itu. Dia akan mendonorkan jantungnya apabila sudah waktunya. Tapi dengan syarat ayah gadis kecil itu bisa melunasi semua hutangnya dan membiaya kehidupan kami sampai tiba waktunya. Dan waktu itu telah tiba.
Karena dia wanita itu. karena dia teladanku. karena dia yang mengajari arti hidup. karena dia yang berkorban untukku. karena dia kuat, dia hebat, dia tabah, dia malaikatku. karena dia pantas mendapat penghargaan setinggi-tingginya. karena dia wanita yang ku sebut mama. Aku akan bertahan. Aku akan menjadi sosok malaikat seperti dirinya. karena dia mencintai pagi. Dan karena pagi itu adalah pagi terakhir kami…

0 komentar:

Posting Komentar

 

Fans