“Menurutmu, seperti apa cinta itu?”
“Menurutku, cinta itu seperti awan itu. Putih, indah dan sangat tenang.
Kalau menurutku cinta itu seperti awan, bagaimana menurutmu? apa kau
berfikir cinta itu seperti awan juga?”
“tidak!”
“lalu? kau berfikir cinta itu seperti apa?”
“entahlah. Aku tak pernah berfikir cinta itu seperti apa. Karena aku sendiri belum pernah merasakannya.”
“apa? jadi selama 17 tahun ini kau belum merasakan jatuh cinta?”
“jangankan merasakan, melihatnya saja aku belum pernah.”
“dasar bodoh! mana bisa kau melihat cinta. Cinta hanya bisa dirasakan. Dan cintalah yang selalu membuat kita bahagia.”
“oh ya? lalu, bagaimana dengan kisah cintamu selama 17 tahun ini?”
“mengapa kau tanya seperti itu padaku?”
“jawab saja. Bagaimana dengan kisah cintamu? apa kau selalu bahagia dengan kekasihmu?”
“pertanyaanmu aneh. Aku tidak mau menjawabnya!”
“kenapa? karena kau tidak selalu bahagia dengan kekasihmu?”
“bukannya tidak bahagia. Hanya saja kami tidak merasa cocok.”
“itu artinya pernyataanmu salah. Cinta tak selamanya membuat kita bahagia. Cinta hanya membuat kita merasa bodoh!”
“hei, tau apa kau tentang cinta?”
Ini kisah cinta yang tak biasa. Kisah cinta dari seorang gadis 17
tahun bernama Genny. Seorang gadis yang awalnya belum pernah merasakan
jatuh cinta. Kini ia menghadapi kisah cinta yang begitu rumit.
Membuatnya harus antara keluarga atau belahan jiwanya. Penuh isak tangis
pengorbanan. Beruntunglah Jenny, ia mempunyai seorang sahabat yang
selalu menemaninya. Beginilah awalnya…
“hey Gen! kau mau kemana? kau tak pergi ke sekolah?” teriak Rima memanggil namaku.
“kau duluan saja. Nanti aku menyusul. Aku masih ada urusan penting.”
teriakku dari kejauhan. Kulihat langkah Rima terhenti. Ia berbalik lalu
pergi.
Aku hendak ke suatu tempat. Dimana aku ingin menemui seseorang.
“Aa..akhirnya kau datang juga.” sahut Joe saat melihatku berdiri di depan daun pintunya.
“aku kemari hanya ingin membayar hutangku padamu.” kataku agak sedikit
ketus. Aku memang tak menyukai gelagat Joe yang sok berkuasa. Dia
sombong dan angkuh. “ini ku kembalikan uangmu.” aku menyodorkan beberapa
lembar uang kertas pada laki-laki sombong itu. Ia benar-benar laki-laki
yang berakhlak buruk. Lihat saja tampangnya. Menyedihkan, berantakan.
Sama sekali tidak ada hal yang menarik.
Aku pun berlalu. “hei! ini kembalianmu.” teriak laki-laki itu.
“tak usah! kau ambil saja. Bukannya kau suka sekali pada uang?” kataku
sedikit menghina. Aku memandangnya ketus kemudian pergi menyingkir dari
hadapannya.
“dari mana saja kau? kau sudah terlambat 10 menit.” tegur Rima ketika aku baru saja sampai di sekolah.
“tadi kan sudah ku bilang aku ada urusan penting dengan seseorang.” jelasku.
“tadi ada yang mencarimu.”
“siapa?”
“seorang laki-laki.”
“apa? laki-laki?” Rima mengangguk. “dimana dia sekarang?”
“dia bilang dia akan kembali. Tapi aku tak tahu sekarang dia ada dimana.”
“apa yang ia katakan?”
“dia hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja. Karena kau tidak ada di
kelas, jadi dia pergi. Tapi tenanglah. Dia akan kembali dan mencarimu
lagi.”
Sepulang dari sekolah, aku dan Rima hendak menunggu laki-laki itu di
depan pagar. Aku penasaran, siapa yang mencariku. Apalagi dia laki-laki.
Yang ku tahu, teman laki-lakiku hanya Alex dan Randy. Tidak ada yang
lain. Apa mungkin Joe. Tidak.. itu tidak mungkin.
“kita sudah berdiri 1 jam disini. Kakiku sudah pegal. Sampai kapan kau akan menunggunya di sini?”
“kau pulang saja dulu. Biar aku yang menunggunya disini.”
“baiklah.”
Tak banyak Rima melangkahkan kakinya tiba-tiba ia berhenti dan berpaling menatapku.
“itu dia, yang mencarimu.”
Aku mengarahkan pandanganku ke arah jari telunjuk Rima. Terlihat seorang
laki-laki berpostur tubuh tinggi namun wajahnya tak jelas ku lihat. Dia
menghampiriku. Berjalan perlahan dan sesekali ia tersenyum padaku.
Aku mengakomodasikan bola mataku. Ingin tahu siapa dia. Semakin mendekat
dan semakin jelas bagaimana wajahnya. Aku ternganga mengamati wajahnya.
Aku tak percaya bahwa laki-laki ini adalah dirinya. “Andy”
“bagaimana kabarmu? sudah lama tidak bertemu denganmu.”
Aku menatap Rima. Sepertinya ia mengerti makna dari tatapanku. “mm..
kalau begitu aku pulang duluan. Kalian lanjutkan saja pembicaraan
kalian.” pamitnya sambil tersenyum. Kini hanya tinggal aku dan Andy.
“ada perlu apa kau mencariku?” tanyaku.
“aku hanya ingin bertemu denganmu.” jawabnya.
“setelah kau meninggalkanku begitu saja demi wanita lain, sekarang kau
ingin bertemu denganku? apa maksudmu? kau ingin menyakitiku lagi?”
“aku sungguh menyesal telah meninggalkanmu. Ku kira dia lebih baik
darimu. Tapi ternyata aku sadar, kaulah yang terbaik untukku.”
“lalu maumu apa?”
“aku merindukanmu. Aku ingin kau kembali padaku.”
“aku takkan semudah itu melupakannya. Itu sangat menyakitkan. Dan jangan harap aku mau menerimamu lagi.”
“ku mohon.. aku minta maaf atas semua yang ku lakukan padamu dulu.”
“maaf pun tak cukup untuk memperbaaiki keadaan yang sudah terjadi.
Sudahlah.. kembalilah pada kekasihmu. Jangan ganggu hidupku lagi.”
Aku pergi meninggalkannya saat itu. Sungguh tak ku sangka dia kembali
tiba-tiba. Sudah 2 tahun lamanya aku tak bertemu dengannya. Setelah
kejadian waktu itu. Dia kekasihku. Cinta pertamaku. Orang pertama yang
sangat ku cintai. Dan dialah orang yang pertama menyakiti perasaanku.
Orang pertama yang tega mengkhianati cintaku. Dia pergi meninggalkanku
demi wanita yang baru ia kenal. Dia mencintai wanita itu dan melupakan
cintanya padaku.
Sekarang ia kembali dan memintaku untuk memaafkan kesalahannya. Aku
tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tak tahu apakah aku akan
memaafkannya atau tidak. Aku sudah melupakannya. Bahkan cintaku sudah
lama tak bersemi untuknya. Namun sekarang dia kembali dengan semua
luka-luka itu. Membuatku harus mengingat memori pahit yang terjadi
padaku dulu.
Esok paginnya, Rima menghampiriku. “kau mau cerita padaku?” tanyanya yang mengagetkanku dan membuyarkan seluruh lamunanku.
“tidak ada yang yang ingin ku ceritakan padamu. Semuanya baik-baik
saja.” aku meyakinkan Rima bahwa keadaan sedang baik-baik saja. “tidak
ada yang perlu kau khawatirkan.”
“tidakkah kau tau apa arti sahabat?” Rima mendekatiku dan menyentuh
bahuku. “sahabat akan selalu ada dimana dirimu sedang tidak baik-baik
saja. Ceritalah padaku.” kata Rima.
“dia kembali.” ucapku datar.
“siapa? maksudmu laki-laki kemarin?” tanya Rima yang mengarah pada Andi. aku mengangguk. “siapa dia?” tambahnya.
“dia masa laluku. Orang yang paling penting dalam hidupku.”
“lalu kenapa kau terlihat bersedih?”
“dia pergi dengan wanita itu. Wanita yang baru dia kenal. Dia sudah
tidak mencintaiku lagi. itu sebabnya dia pergi meninggalkan aku.”
jelasku.
Rima memelukku yang sedang terisak. Apa-apaan ini? aku menangisi
laki-laki itu? sungguh tidak pantas. Perasaanku sungguh kacau sekarang.
Aku sudah melupakannya. Bahkan cintaku juga sudah melupakannya. Tapi
luka ini masih terngiang di benakku. Aku masih mengingatnya.
Dunia ini begitu sunyi. Hanya terdengar suara gemuruh ombak yang
menghantam batu karang. Hanya ada aku, laut dan matahari. Hanya ada aku
dan pasir putih ini.
“Geeennyyy!!” sontak aku menoleh ke arahnya. Ia sedang berlari ke arahku.
“ini. kutemukan ini di depan rumahmu.” ia menyodorkan sebuah amplop berisi surat kepadaku.
“kau yakin surat ini untukku?”
“eheem.. tertulis namamu di muka amplop itu. kau baca saja.”
Aku segera membuka amplop putih yang sedang ku pegang ini. Aku tak
pernah mendapatkan surat selain surat dari orangtuaku. Dan itu pun akan
diletakkan di kotak surat, bukan di depan rumah.
Untukmu.. orang yang ku cintai selama hidupku.
Maafkan aku yang selama hidupku telah menyengsarakan hatimu. Maafkan aku
yang selama hidupku telah meninggalkanmu. Ku sadari tak ada wanita
terbaik selain dirimu. Tak ada wanita yang mencintai diriku lebih dari
dirimu.
Untukmu.. orang yang ku sayangi…
Aku mengharap kata maaf dari bibirmu. Aku mengharap ketulusan hatimu untuk memaafkanku. Sesungguhnya aku masih mencintaimu..
Datanglah menemuiku sore ini. Itu pun jika kau telah memaafkanku.
Aku menunggumu…
Tertanda,
Andy..
Tangisku sudah tak bisa ku tahan lagi. semuanya sudah tertumpah dan
berbaur menjadi satu. Rasa sedih, gundah, gelisah, bingung campur aduk
di dalam pikiranku. Oh.. apa yang harus ku lakukan. Apa aku akan menemui
Andy dan memaafkannya. Serta melupakan apa yang telah ia lakukan
padaku.
Sore itu, aku benar-benar memutuskan untuk menemui Andy. Soal
memaafkannya atau tidak itu urusan nanti. Andy sudah menungguku di sana.
Di tempat favorit kami dulu. Bahkan dia masih tetap sama seperti dulu.
Masih dengan pakaian yang ia kenakan. Dan jam tangan itu.. jam tangan
itu pemberianku. Saat ia berulang tahun. Tapi itu sudah dua tahun yang
lalu.
“kau datang.” ujarnya ketika melihatku mengamping di belakangnya.
“aku datang bukan untuk memaafkanmu.” kataku.
“lalu?”
“aku datang karena aku menghargai suratmu. Bukan karena alasan lain.”
“apa yang harus aku lakukan agar aku mendapat maaf darimu?”
“dengan cara kau pergi dari hidupku dan jangan pernah kembali.”
“baik kalau itu maumu. Aku akan pergi. Terima kasih sudah datang dan mau membaca suratku.”
Aku tak mengatakan apapun padanya. Aku hanya menekan air mataku
jangan sampai mengalir keluar. Apalagi membuatnya tahu. Aku hanya
memandangnya dengan tatapan kosong. Aku tak tahu harus bergerak kemana.
Menjauh pun rasanya tak sanggup. Aku mengatakannya bukan dari dalam
lubuk hatiku. Hanya saja aku ingin dia tak menyakitiku lagi.
“mengapa kau menangis Gen?”
“aku tidak menangis. Dan aku tidak mau membiarkan air mataku jatuh untuk orang sepertimu.”
Andy mulai mendekatiku. Entah apa yang mau ia lakukan selanjutnya. Yang jelas aku masih tetap berusaha menahan air mataku.
“aku sangat mengenalmu. Dan aku juga sangat mengerti perasaanmu. Kau mengatakan semua itu bukan dari hatimu kan?”
“apa maksudmu?”
“kau sebenarnya tak menginginkan aku pergi. Hanya saja kau takut suatu saat nanti aku akan menyakitimu lagi.”
Aku menelan ludah. Bagaimana dia bisa tahu isi hatiku. Bagaimana dia tahu apa yang sedang ku pikirkan.
“kemarilah..” ujarnya kemudian meraih tubuhku dengan kedua tangannya. Ia
memelukku sama seperti saat pertama kali ia menyatakan cintanya padaku.
Air mataku kini tak bisa ku tahan lagi. Mereka sedang menghiasi suasana
hatiku.
Oh… senja ini sungguh rumit. Bahkan sangat rumit. Pelukannya sungguh
hangat. Aku sangat merindukannya. Orang yang ku cintai telah kembali.
Tapi mengapa hatiku masih saja bimbang menerimanya. Apa karena aku takut
ia meninggalkanku lagi?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar